Artikel

Kemerdekaan Ide dan Gagasan Penulis di Era Revolusi Industri 4.0

Oleh : Sastra Wijaya

Pada era digital yang kerap kita kenal sebagai era revolusi industri 4.0 dengan mudah kita dapat mencari dan menemukan sumber-sumber bahan bacaan untuk menambah pengetahuan tentang apa saja yang kita butuhkan. Kita dapat membaca dimanapun dan kapanpun, bahkan hanya untuk sekedar mengisi waktu luang dan bersantai hanya dengan sekali “klik” kita sudah bisa menemukan apa yang ingin kita baca. Kita tidak perlu berlangganan koran, majalah, toko buku atau pergi keperpustakaan untuk membaca.

Menulis merupakan kegiatan yang memiliki berbagai kesulitan dan tantangan, bahkan bagi seorang penulis professional sekalipun, karena menulis memerlukan kesabaran dan konsistensi dalam melaksanakannya. Produktifitas menulis bagi mereka yang telah menjadikan menulis sebagai profesi pun terkadang mengalami hambatan dan tantangannya sendiri, karena kegiatan menulis tidak lepas dari menemukan ide-ide terbaru yang menarik dan menjaga kualitas tulisannya agar tetap ditunggu oleh pembacanya. Sehingga tugas seorang penulis tidak hanya menulis tentang apa yang ingin disampaikannya, tetapi perlu juga memperhatikan ketertarikan orang lain untuk membacanya. Dengan begitu menulis tidak dapat dilakukan hanya sekedar mengisi waktu luang dan iseng semata seperti halnya membaca, karena kegiatan menulis memerlukan keuletan, disiplin, fokus dan konsentrasi.

Banyak yang berpendapat bahwa kesulitan dan tantangan yang dihadapi oleh para penulis telah teratasi oleh kehadiran teknologi dan digitalisasi. Era revolusi industri 4.0 (era digital) seolah menjadi solusi bagi penulis tentang semua persoalan yang hadapi. Karena pada era ini penulis akan mendapatkan berbagai fasilitas kemudahan. Diantaranya adalah kemudahan dalam mencari ide dan gagasan dari berbagai sumber informasi dan literatur yang dengan mudah di dapat dari internet. Media penerbitan karya tulis juga relatif banyak, penulis tidak selalu bergantung pada media mainstream seperti buku dan koran yang cenderung harus mengikuti selera dan keinginan penerbit. Penulis dapat membuat media terbitan sendiri untuk mempublikasi karyanya, seperti melalui media sosial dan website/blog pribadi.  Pada era 4.0 ini juga pemasaran karya tulis jauh lebih mudah dilakukan oleh penulis karena tidak membutuhkan banyak biaya dan tidak perlu menentukan target pembaca terhadap tulisnya.

Namun pada prakteknya kemudahan yang didapatkan penulis di era revolusi industri 4.0 (era digital) memunculkan persoalan dan tantangan tersendiri, apalagi bagi penulis pemula, karena persaingan dan kualitas sebuah karya tulis semakin tinggi. Pada era ini juga kritikan pembaca terhadap karya tulis yang dihasilkan oleh penulis cenderung lebih bersifat “sporadis” karena penulis tidak dapat menentukan target pembacanya, karena pada era ini siapa saja dapat membaca tulisan kita. Dengan berbagai macam pengetahuan dan latar belakang pembaca pada era digitaliasai ini, penulis akan kesulitan untuk mengajak pembaca memasuki ide dan alam pemikiran penulis. Pembaca pada era ini jauh lebih kritis, mereka tidak ingin terkesan digurui atau digiring opininya, sehingga penulis perlu sangat berhati-hati dalam mengemas tulisanya. Pada era 4.0 ini pembaca memiliki kebebasan untuk menilai dan memaknai sebuah tulisan. Bahkan hal yang terkesan sangat “lucu” adalah terkadang pembaca jauh lebih mengatahui tentang apa yang menjadi ide dan gagasan sebuah karya tulis dari seorang penulis itu sendiri. Jika meminjam istilah milenial, pembaca yang seperti ini kadang dikenal dengan sebutan “Netizen Bar-bar”, maha benar pembaca dengan segala kritikannya.

Nah, jika begitu bagaimana dengan penulis yang masih pemula atau amatiran? Bagi mereka yang menulis hanya karna tuntutan tugas saja? Seperti seorang dosen muda miasalnya. Tentu mereka akan mengalami kesulitan yang berganda. Mereka akan dihadapkan pada masalah yang timbul dalam diri mereka seperti kurang percaya diri, kemudian aturan dan kaidah penulisan yang harus dipenuhi pada karya tulis tertentu, bahkan hingga sampai pada pembaca yang harus dipuaskan dari karya tulisan mereka. Pada akhirnya dari tantangan dan kesulitan tersebut, tidak sedikit dari penulis yang memutuskan berhenti menulis sebelum naskah selesai ditulis dan dipublikasi.

  1. Kebingunan menentukan ide dan gagasan

Era revolusi industri 4.0 (era digital) memberikan kesempatan bagi penulis pemula untuk menemukan banyak ide dan gagasan yang menarik untuk dijadikan tema dan topik dalam sebuah tulisan, hal ini dihasilkan dari banyaknya sumber literasi dan informasi yang mudah di akses melalui internet. karena banyak nya sumber referensi di internet tersebut alih-alih bukannya memudahkan terkadang malah membuat bingung bagi penulis pemula. Hal ini juga disebabkan karena dalam era digital yang memiliki kecepatan perubahan informasi membuat isu dan persoalan yang dihadapi masyarakat cepat mengalami perubahan, sedangkan kegelisahan masyarakat terkadang menjadi ide dan gagasan yang cukup menarik bagi penulis untuk ditangkap kedalam sebuah tulisan karena masyarakat merupakan market (pembaca). Pembaca cenderung lebih mencari topik-topik tulisan yang dekat dengan mereka dan menyukai topik yang terbaru (update).

 Begitu mudah dan banyaknya sumber informasi di era revolusi industri 4.0 (era digital) untuk mencari inspirasi tentang ide dan gagasan dalam menulis terkadang malah membuat penulis kebingungan, bukannya inspirasi yang didapatkan penulis tetapi kemudian malah pemikiran bahwa semua hal tentang ide dan gagasan yang ada dalam pikiran penulis sudah banyak dituangkan oleh penulis lain. Hal ini membuat rasa percaya diri dan semangat menulis menjadi menurun. Bahkan bagi penulis pemula jika pun dipaksakan untuk banyak membaca sumber referensi yang digali dari internet sebagai bahan tulisan terkadang malah membuat bentuk tulisan yang dihadirkan tidak dapat lepas dari gaya bahasa tulisan yang dirujuk. Sumber informasi dan referensi yang dibaca tersebut seolah menjadi bayang-bayang yang mengganggu ide dan gagasan awal tentang topik yang akan ditulis sebelumnya. Sehingga bukannya penulis mendapatkan pencerahan tetapi kebingungan yang didapatkan. Akhirnya tulisan yang dibuat mengacu kepada nilai kepraktisan, malas mengembangkan dan mengabaikan kualitas. Padahal menulis merupakan bagian dari penuangan kegelisahan dan pemikiran. Sedangkan pengumpulan informasi hanya bagian dari riset yang memperkuat ide dan gagasan kita sebelum menulis.

  • Bayang-bayang Plagiasi

Bagi penulis bayangan plagiasi sungguh menjadi sesuatu yang terus menghantui di era revolusi industri 4.0 (era digital) entah sebagai pelaku atau korban. Kemudahan, kecepatan dan efisiensi seperti menjadi lorong gelap tumbuh suburnya paktek-praktek plagiasi. Informasi dan sumber referensi yang membanjiri internet dengan mudah dapat diakses dengan bebas, penulis yang betul-betul menciptakan karyanya dengan orisinil tidak dapat menghindar dari arus ini, seperti halnya musisi yang dibajak kasetnya, atau seperti pencipta lagu yang lagunya dapat dinyanyikan oleh siapa saja tanpa ada royalty. Atau mungkin seperti acara-acara televisi yang bersumber dari youtube. Begitulah mungkin penomena penulis di era digital. Kita tidak dapat juga sepenuhnya menyalahkan mereka yang menjiplak ide dan gagasan seorang penulis, karena memang arus perubahan yang begitu cepat sehingga banyak penulis melakukan langkah instan dalam membuat sebuah karya.

Plagiasi memang merupakan bagian dari etika dalam sebuah penulisan, sehingga memang sudah sepatutnya seseorang menghargai karya orang lain. Hal ini mudah diucapkan tapi begitu berat untuk tidak dilakukan. Walaupun demikian sebenarnya praktek palgiasi pada era revolusi industri 4.0 (era digital) dapat diketahui dengan cukup mudah, hal yang dapat dilakukan diantaranya dengan menelusuri konten dan tulisan di internet yang sudah terekam secara digital. Namun karena tulisan yang dipublikasi kedalam internet penyebarannya begitu luas sehingga sulit untuk dikendalikan. Terlebih jika tulisan tersebut sudah dimodifikasi dan dikembangkan, maka hal yang paling baik dilakukan adalah mencantumkan rujukan dalam tulisan.

  • Kemerdekaan menulis

Sebagai penulis pemula yang minim pengalaman, dibagian akhir tulisan ini saya mencoba melihat prespektif tantangan dalam menulis pada era revolusi industri 4.0 (era digital) dari kacamata seorang dosen muda yang masih dalam proses belajar menulis. Karena bagi seorang dosen keharusan dalam mengamalkan tri dharma perguruan tinggi yakni pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat ternyata perlu ditunjang oleh kemampuan menulis. Seperti pengajaran yang mengharuskan penulisan bahan ajar, penelitian yang dikemas kedalam bentuk jurnal atau artikel, dan implemntasi pengabdian masyarakat, kesemuanya dalam bentuk karya tulis yang harus dipublikasikan. Sehingga tidak berlebihan kemudian jika saya memiliki anggapan bahwa dosen itu juga seorang penulis, karena dituntut untuk terus menulis dalam setiap kegiatan tugasnya.

Tantangan menulis sebagai bagi seorang dosen di era revolusi industri 4.0 (era digital) sangatlah berat, karena menulis bagi dosen bukan hanya sekedar mentransformasikan keilmuan, meluapkan kegelisahan dan pencurahan ide serta gagasannya semata. Dosen kini dituntut menulis artikel, jurnal, penelitian dan buku ajar, serta mempublikasikannya untuk menjadi salah satu syarat kenaikan pangkat. Bagi dosen muda yang juga minim pengetahuan tentang menulis hal ini terasa sangat sulit dan terkesan dipaksakan, menulis dengan ide dan gagasan yang bebas saja sudah sangat sulit dan belum tentu dapat dilakukan, apalagi jika harus menulis dengan kaidah-kaidah ilmiah yang topiknya ditentukan, yang penerbit tempat publikasinya pun ikut ditentukan seperti harus jurnal nasional, terakreditasi, terindeks dan scopus.

Disaat semua orang boleh menulis apa saja tentang ide dan gagasan mereka atau merasakan “kemerdekaan” sebagai penulis di era revolusi industri 4.0 (era digital), dosen justru didorong dan disibukan pada ruang-ruang kaku penulisan. Memang ada perkataan bahwa “dosen bisa menulis apa saja yang mereka suka” tapi coba kita lihat keharusan dosen menulis pada artikel-artikel, jurnal, penelitian dan buku ajar yang menjadi keharusanya telah menyita pemikiran dan waktu yang membuat dosen tidak dapat mengembangkan pemikirannya untuk menungkan tentang sesuatu yang dia suka kedalam bentuk tulisan.

Pada akhirnya untuk mengejar poin demi point dalam kenaikan pangkat, dosen muda yang minim kemampuan menulis banyak yang mengambil jalan pintas, mereka membuat buku dari kumpulan tugas mahasiswanya yang referensinya hasil comot dari internet, membuat artikel dan jurnal dari hasil tugas akhir mahasiswanya dan membuat tulisan pengabdian masyarakat yang juga diambil dari kegiatan mahasiswanya. Awalnya dosen mencoba melibatkan mahasiswa dalam kegiatan penulisan tersebut untuk mendorong budaya literasi pada mahasiswa, namun karena mahasiswa di era digital cenderung juga memodifikasi tugas dari internet sehingga rawan plagiarisme. Akhirnya semoga tulisan ini menjadi bahan pengakuan kehilafan dan menjadi renungan bagi penulis untuk terus memperbaiki diri. Dan semoga Allah S.W.T senantiasa memberikan petunjuk dan ampunannya bagi kita sekalian. Amin.

Please follow and like us:

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *